Langsung ke konten utama

Bahagianya bisa produktif sebagai ibu rumah tangga

 Ada sebuah mantra di kelas bunda Sayang yang benar benar baru saya rasakan dahsyatnya mantra itu untuk bisa tetap fokus. 

Ternyata mantra itu bisa bekerja jika

1. Kita telah menemukan sebuah tujuan.

2. Kita telah menemukan cara untuk mencapai sebuah tujuan itu

3. Allah mengijinkan kita untuk menemukan dan mengingat 2 hal diatas. 


Yup. Mantranya tau apa?


" menarik, tapi saya tak tertarik "


Sebuah mantra yang dulu, setengah2 saya rasakan. 


Alhamdulillah... 


Baik segitu dulu intro nya. 😅


Kembali ke judul tulisan ini ya. 

Bahagianya bisa produktif menjadi ibu rumah tangga. 

Jadi, dikelas bunda produktif 2 pekan ini.. Kita masuk Zona E nii.. 


E ini adalah singkatan dari 4E, Enjoy, Easy, Excellent, Earn. 

Dimana kita diminta menuliskan aktivitas selama 2 pekan ini, lalu menandainya sebagai 4E dan masih harus memilih mana yg prioritas. Wow.. 


Pas banget di project co housing kita sudah masuk Milestone 2, padahal saya sendiri masih tertinggal di milestone 1nya.. MasyaAllah.. 

Bisa terpicu , terbahagiakan juga ketika saya bisa terlibat aktif dalam proyek ini.. Kita semua saya yakin.. Semuanya begitu saling memberi rasa bahagia itu. 


Terimakasih bunpro.. 

Memiliki mimpi , cara dan teman berbagi rasa itu suatu yang bikin "saya ga pengen mati sekarang"


Krn Paling tidak ada sebuah produk yang amat perlu saya buat untuk meningkatkan PD. 



Ada anak2 yang siap banget saya ajak observasi dunia mereka, 


Ya Robb , mampukan ya Robb


Terakhir, ada sebuah quote dari suami, yang menurut saya ini adalah bekal pengetahuan terpenting untuk ayah bunda yang punya anak usia 7 hingga 10th .. 


" Tugas kita adalah menangkap rasa, bukan mendebat. Mengajaknya berfikir, bukan membuat aturan aturan "


Karena kita ortu punya fitrah menangkap rasa itu. 



Alhamdulillah.. 

Mari kita tutup tulisan ini dg gambar2

Hasil merenung dan bekerja sama di ch 4 cia ya.. 














Komentar

Postingan populer dari blog ini

kebahagian

jika ayahnya Lazera tersenyum bahagia karena tontonan dia di youtube menginsirasinya... saya,bundanya Lazera alhamdulillah bisa terseyum bahagia ketika bertekad tak mau kalah dg lelah.. lalu menyapu membereskan rumah yg lantainya bertebaran pasir patai.. sambil menunggu anak2 mendapat keputusan siapa yg mandi duluan, dg cara main kertas guting batu bertiga...  dari yg tiap pemenang scornya dihitung dan diigat aurora lalu ia lupa sampai kemudian mencatat scorenya di papan magnetik ... tersenyum bahagia mendengar tawa zea yg mengaggap langit lucu... saya bahagia krn Allah mengijinkan saya mendengar dan merasaka atsmosfir ini dari lelah yag begitu ingin tidur  ..marah krn tak nyaman dg bau badan anak2 yg belum pada mamdi dan merekapun tak nyaman.. krn kami semua capek krn perjalanan kemarin... sampai marah juga ke ayah yg menoton. hahahaha dan tawa zea pun Allah jadikan pemecah keluh ini.. alhamdulillah.. trimakasih y Allah.. ayahpun menyapaikan ajakannya agar kita pind...

Si dia Tak suka Durian

Jadi setelah 6th pernikahan kami.. baru diakuilah bahwa saya bukanlah cinta pertama nya.. (yg masih hidup) Ada dia.. yg memang sejak awal sudah saya rasakan bahwa suami ada hati.. tapi memang tak pernah diakui.. Setelah diakui dan diyakinkan akan sebuah hakikat.. Maka itu sudah bukan masalah lagi.. Dan kemudian saya pun mengetahui bahwa si dia tak suka durian.. Wuahahaha .. benar2 busa lucu berat jika Allah menyatukan kami bertiga.. Suami akan memiliki 1 wanita yg penikmat durian.  Dan 1 lagi wanita yg tak suka durian..  Banten, 11 September 2017 12:57wib #ibuJugaGaSukaDurian #CeritaLucuAtauCeritaPerih ?? #MyHeart #bundaLazera #ODOPfor99Days 2017 #Day6

RUMAH, SEKOLAH dan PENDIDIKAN

⁠⁠⁠⁠⁠🏡RUMAH, SEKOLAH dan PENDIDIKAN🏡 oleh : Septi Peni Wulandani Usai Libur lebaran, ternyata tidak membuat redup semangat para Fasilitator Nasional Ibu Profesional untuk kembali belajar, belajar dan belajar. Saat diskusi dengan para Ibu  Profesional di kelas fasilitator nasional Bunda Sayang #1, salah satu topik yang kami bahas adalah mengapa saat ini banyak orang yang berpendidikan tinggi, tetapi perilaku ilmiahnya rendah. Seperti mudah sekali mempercayai berita hoax, menyebar ujaran kebencian, melakukan plagiasi tulisan/hasil karya orang lain, mudah sekali menyebar broadcast yang diawali dengan kalimat "copas dari grup sebelah" tanpa melihat kebenaran isi suatu berita dan tidak tahu sumbernya dari mana. Salah satu kesimpulan yang kami ambil saat diskusi tersebut adalah ternyata antara  pendidikan dengan  institusi sakralnya yaitu sekolah atau rumah sedang berpisah ranjang. Tidak banyak sekolah yang menerapkan proses pendidikan yang benar di dalamnya, hanya ...